Logo Rabu, 1 Desember 2021
images

Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH (kanan)

MAJALAHREFORMASI.com - Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH dari Universitas Indonesia menuturkan keprihatinan nya atas masih maraknya masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi rokok. Padahal di negara barat saja cukai rokok ini di beri label atau nama dengan sin tax dimana penggunaan kata 'sin' yang berarti dosa atau kesalahan, dikarenakan rokok memang merugikan kesehatan dan ini perbuatan berdosa di negara barat.

Demikian dikatakan Hasbullah kepada wartawan saat acara diskusi keadilan dalam pembiayaan kesehatan, Kamis (21/10) siang di hotel Mulia Senayan, Jakarta.

Ia juga berpesan salah satu cara agar menurunkan tingkat perokok adalah dengan menaikkan harga rokok. "Anda tahu sendir di Singapura harga perbungkus rokok Indonesia hampir setara dengan Rp.200,000 bahkan di Australia harganya lebih mahal," ucap Hasbullah.

Perusahaan rokok ini, ujar dia, mempunyai keuntungan yang sangat besar mereka tidak menyumbang untuk anggaran negara kecuali cukai. Cukai rokok sendiri adalah sumbangan paksa dari para perokok. "Jadi jika anda perokok dipaksa menyumbang," bebernya.

Lebih jauh, Hasbullah juga mengusulkan agar industri rokok dapat mulai digeser dengan industri makanan dan hasil tanaman lainnya yang juga belum tersentuh secara maksimal, misalnya: ekspor buah yang bisa menggantikan penerimaaan negara dari pada rokok.

Terkait stigma rokok kretek adalah merupakan budaya Indonesia, Hasbullah mengingatkan agar jangan terkecoh dengan ungkapan tersebut karena tidak benar. "Asal tahu ya pabrik kretek terbesar saat ini di Indonesia adalah milik perusahaan asing," jelasnya.

Slogan ini menurutnya sengaja dilontarkan sebagai salah satu bagian politik ekonomi sehingga tidak perlu heran jika terjadi banyak perdebatan karena industri rokok sangat menggiurkan. (David)