Logo Rabu, 3 Maret 2021
images

JAKARTA, MAJALAHREFORMASI.com- Kita harus mengembalikan fungsi agama kepada tempatnya, yaitu agama sebagai sumber inspirasi, sebagai sumber kasih sayang, sebagai sumber kebaikan dan perdamaian. Agama tidak lagi boleh menjadi sumber atau norma konflik dari perbedaan-perbedaan yang ada. Agama harus dijauhkan untuk dipergunakan sebagai senjata politik untuk meraih kekuasaan dan kepentingan lainnya. Demikian pernyataan H. Yaqut Cholil Qoumas (Menteri Agama Republik Indonesia) dalam sambutan acara Webinar Internasional yang bertajuk 'Membangun Saling Memahami Antara Muslim, Kristen, dan Yahudi Sebagai Keluarga Abrahamik Melalui Pendidikan' beberapa saat lalu yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia dan Institut Leimena.

Bukan hanya itu, dia juga menambahkan bahwa pentingnya mengembangkan trilogi persaudaraan, yakni: merawat persaudaraan sesama pemeluk suatu agama, memelihara persaudaraan sesama warga bangsa dan memupuk persaudaraan sesama umat manusia.

"Seperti yang saya sampaikan di banyak negara, konflik yang didasarkan atau disandarkan pada agama terjadi pada tiga ranah ini: konflik di antara sesama pemeluk agama tertentu, konflik di antara pemeluk agama yang berbeda di suatu negara, dan konflik di antara pemeluk agama yang sama atau berbeda lintas negara," tegasnya.

Ia juga mengajak semua anak bangsa agar mempunyai komitmen untuk memajukan dunia pendidikan  dengan mengembangkan wawasan keagamaan yang wasyatiyah, toleran dan kontekstual. Baginya, Kontekstualisasi ajaran agama ini vital karena  ada doktrin dan penafsiran keagamaan di dalam agama-agama Abrahamik yang dianut sebagian pemeluknya yang mengajarkan kecurigaan dan permusuhan kepada pemeluk agama lain.

Itu sebabnya kontekstualisasi ajaran agama ini, menurutnya, sangat penting di dalam dunia di mana umat manusia seharusnya bersatu menghadapi problem-problem baru kemanusiaan, kontekstualisasi ajaran agama untuk masa depan harmoni peradaban ini patut dan harus diwujudkan.

"Ini menjadi kata kunci dan menurut saya ini tidak bisa kita hindarkan jika kita menginginkan peradaban dan kehidupan yang lebih baik."

Tampak beberapa tokoh yang menjadi narasumber acara webinar ini diantaranya: Syekh Dr. Mohammad bin Abdulkarim Al-Issa (Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia dan Anggota Dewan Ulama Senior Arab Saudi), Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang (Ketua Majelis Pertimbangan Persekutuan GerejaGereja di Indonesia dan Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan), Rabbi David Rosen, KSG, CBE (Direktur Internasional Hubungan Lintas Agama American Jewish Committee dan Anggota Dewan Direktur KAICIID), Prof. Dr. M. Amin Abdullah (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Ketua Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia). (DAVID)