Logo Rabu, 3 Maret 2021
images

Ketua Sinode Gereja Christian Ministry Church (CMC) Ev Dr Gunadi Gunawan saat memberikan sambutan dalam acara leadership training (22-23 Januari 2021)

JAKARTA, MAJALAHREFORMASI.com- Gereja Christian Ministry Church (CMC) menggelar acara seminar Leadership Training yang dikuti oleh para gembala sidang gereja CMC. Perhelatan ini berlangsung selama dua hari dengan menerapkan protokol kesehatan, pada 22-23 Januari di Auditorium Light, ruko pertokoan Pulomas, jalan Perintis Kemerdekaan, Jakarta. Dengan Pembicara adalah Ps Joshua Pitoy seorang motivator dan gembala gereja di Lippo Karawachi.

Ketua Sinode Gereja Christian Ministry Church (CMC) Rev Dr Gunadi Gunawan pada sambutan menekankan pentingnya acara training ini. Ia juga menambahkan agar pelayanan suatu Gereja dapat maksimal perlu dibangun sebuah sinergisitas team work kepengurusan Gembala sidang yang berisi 3 point penting, yakni: Kapasitas, Integritas dan Loyalitas.

Banyak kasus, menurutnya, dimana para pengurusnya tidak bekerja maksimal bahkan mengundurkan diri karena tidak memperhatikan ketiga hal tersebut.

"Tidak ada ide, dan kontribusi apapun yang ada hanya kritik terus akhirnya bubar. Itulah pentingnya dibangun tim work yang mempunyai dasar yang benar," ujar Gunadi.

Rev Gunadi juga mengatakan gembala harus punya tim work dengan mainset melakukan perkara besar bukan yang mempunyai pandangan atau pemikiran yang kecil, percuma tidak akan berkembang.

"Saya pelajari bagaimana orang besar yang dipakai luar biasa oleh Tuhan karena mereka mempunyai kapasitas yang besar. Ini bukan tiori kemakmuran ya, tetapi Tuhan menginginkan umatNya melakukan perkara yang besar seperti kisah nabi Musa dahulu," tutur Gunadi.

"Kalau anda kapasitasnya kecil, tidak mungkin bisa menjadi great leader," tegasnya.

Kemudian acara dilanjutkan dengan ibadah yang juga dipimpin juga oleh Rev. Dr Gunadi Gunawan,  dalam khotbahnya ia mengangkat dari ayat alkitab 1 Timotius 4:12. Ayat ini menurutnya adalah kembali penegasan dari Tuhan agar umatNya mempunyai wawasan atau kapasitas yang besar.

Bukan itu saja dalam ayat Ulangan 28:13 dan Roma 8:15 juga disebut bahwa itu adalah janji Tuhan sehingga umat Tuhan harus mempunyai kepercayaan diri dan berhak memiliki kapasitas besar karena identitasnya sebagai anak Tuhan.

"Ingat ya gembala sidang harus mempunyai team work yang sehati, sepikir dan mempunyai kapasitas besar kalau tidak maka pertumbuhan gereja akan mengalami stagnasi," bebernya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan materi training yang cukup santai namun menyenangkan akibat dikemas dengan baik oleh Ps Joshua Pitoy, STh, sehingga peserta training dapat mencerna materi dengan baik.

Kali ini, Ps Joshua mengangkat tema 'membangun dan mengembangkan Gereja di masa pandemi Covid-19.'  Disini ia menekankan bahwa acara ini untuk membekali para gembala gereja CMC untuk mengetahui tentang seluk beluk leadership training akibat perubahan zaman.

Pandemi Covid-19 telah membuat banyak perubahan yang terjadi dalam masyarakat namun Ps Joshua menuturkan bahwa tidak perlu kwatir karena selalu ada jalan dalam kondisi apapun karena Tuhan Yesus adalah sumber hikmat.

Dia menceritakan pengalamannya waktu membuka pelayanan pertama kali sekitar 20 tahun lalu dimulai dari gereja khusus orang asing tetapi selama bertahun-tahun tidak ada jiwa yang datang. Sampai ia pindah jurusan di STT Penabur untuk menyerap ilmunya namun belum juga maksimal.

Hingga suatu saat Ps Joshua sadar bahwa bukan kuat dan gagah sesorang yang membuat pelayanannya berhasil tetapi hikmat Tuhan.

Gereja Adalah Milik Kristus

Lebih lanjut ia menuturkan maju tidaknya sebuah gereja adalah tergantung dari siapa yang menjadi kepala gereja tersebut kalau yang menjadi kepalanya para hamba Tuhan bukan Kristus pasti akan mengalami kemunduran bahkan tidak jarang gerejanya akan tutup.

"Harus diingat yang punya gereja adalah Tuhan Yesus, kita hanya sebatas manager," ujar hamba Tuhan dan juga gembala di GBI Karawaci ini.

Ps Joshua mengatakan bahwa pandemi ini adalah sebuah peluang bagi gereja sebenarnya untuk menjadi serupa dengan karakter Kristus yang membawa nilai hidup tentang kedamaian.

Strategi pengijilan juga saat ini harus berubah sama seperti kedatangan Tuhan Yesus untuk orang berdosa bahkan Ia tidak segan-segan makan bersama dengan pemungut cukai.

"Yesus tidak alergi dengan orang berdosa, karena Ia sadar bahwa kedatangan Nya buat orang berdosa, seharusnya ini diterapkan oleh hamba Tuhan saat ini," tutur dia.

Setelah coffee break acara dilanjutkan pada sesi kedua tentang kepemimpinan hamba. Dikatakannya, dalam Markus 9:35 Tuhan memberi perintah agar barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Bahkan,  ujar dia, dalam dunia sekuler konsep ini dikenal dan dipakai seperti yang katakan oleh Robert Greenleaf dengan slogannya: Good leaders must first become good servants.

Diahir sesi trainingnya Ps Joshua mendorong agar para hamba Tuhan termasuk gembala gereja agar mempunyai sikap yang rendah hati dan mau menjadi hamba.

"Saat anda mengambil keputusan untuk menggembalakan jemaatNya anda harus menjadi hamba atau pelayan, bukan menjadi pemimpin yang ingin dilayani" pungkasnya. (DAVID)