Logo Kamis, 26 November 2020
images

JAKARTA, MAJALAHREFORMASI.com- Perhelatan Festival Pemilu Harga yang diselenggarakan oleh Center for Indonesia Strategic Development Initiative (CISDI), Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI), Komite Nasional Pengendalian Tembakau (KOMNAS PT), dan Jaringan Perempuan Peduli Pengendalian Tembakau (JP3T) telah memasuki babak akhir, yaitu Malam Penghitungan Suara.

Di acara virtual yang dimeriahkan dengan penampilan anak muda berbakat tersebut, kemenangan jatuh ke tanganpendukung rokok mahal dengan total dukungan sebesar 95% dari 1.541 sura yang terkumpul. Pulihkembali.org diinisiasi oleh kelompok anak muda yang selama ini resah terhadap murahnya harga rokok di Indonesia.

Selama ini, akses publik untuk menyuarakan keresahan tersebut tidak benar-benar difasilitasi oleh negara. Hal ini berbanding terbalik dengan pengusaha rokok yang diberi kesempatan bersuara dalam proses pembuatan kebijakan tarif cukai setiap tahunnya, bahkan hal tersebut diatur di dalam Undang-Undang No. 39 Tahun 2007 tentang cukai.

Acara ini mendapatkan apresiasi positif dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia, Bapak Muhadjir Effendy. Beliau menekankan bahwa pendapatan yang didapat dari cukai rokok tidak sebanding dengan kerugian yang negara terima akibat beban kesehatan misalnya. Pemerintah berusaha mengetatkan aturan dengan berencana untuk meniadakan jaminan kesehatan bagi para perokok.

Selain pemerintah, Pak Muhadjir menekankan pentingnya aksi dari para aktivis dan masyarakat yang peduli dengan pengandalian tembakau karena bagaimanapun pengendalian konsumsi tembakau ini membutuhkan usaha bersama.

Beliau memaparkan presentasinya pula pada acara Festival Pemilu Harga ”Terdapat sembilan misi pembangunan dari Visi Misi Presiden 2020-2024 di antaranya adalah peningkatan kualitas manusia Indonesia, pembangunan yang merata dan berkeadilan, dan kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa dan rokok dapat menjadi ranjau yang akan mengganggu misi pembangunan manusia ini.” ujarnya saat menyampaikan key note speech.

Seperti yang disampaikan oleh Manik Marganamahendra, Project Officer Komite Nasional Pengendalian Tembakau, “Rokok di Indonesia itu kan sangat murah ya, ditambah kita masih bisa beli ketengan jadi seribu rupiah saja dapat. Itu efeknya ke mana-mana, dari kesehatan masyarakat bahkan ekonomi pun terdampak. Nah, anak muda sebagai generasi penerus kan tidak di fasilitasi bersuara oleh negara, makanya kita berinisiatif untuk menyelenggarakan ‘Pemilu Harga ’di mana masyarakat bisa ikut memilih, rokoknya mahal apa murah. Ini merupakan kebebasan berpendapat karena ruang bersuara di undang-undang sudah diberikan ke pengusaha secara eksklusif.”

Selain memberi sarana masyarakat untuk bersuara mengenai kebijakan harga rokok melalui Festival Pemilu Harga, pulihkembali.org juga memberikan akses informasi terkait cukai tembakau untuk mengedukasi masyarakat.

“Ya, selama ini kan informasinya simpang siur. Masih banyak yang menganggap cukai itu hanya berfungsi sebagai pemasukan. Padahal, definisi cukai di undang-undang adalah pengendalian. Cukai berbeda dengan pajak. Maka dari itu, kita mencoba mengedukasi masyarakat melalui konten video dan dokumen riset. Sebagai contoh, PKJS pernah mengeluarkan riset yang menemukan anak-anak dari orang tua perokok kronis memiliki pertumbuhan berat badan secara rata-rata lebih rendah 1,5 kg dan pertumbuhan tinggi badan rata-rata lebih rendah 0,34 cm dibanding dengan anak-anak dari orang tua yang tidak merokok.

Masih banyak temuan-temuan lainnya, seperti narasi pengambil kebijakan terkait cukai rokok yang terekam di beberapa berita yang dihimpun dalam CISDI Magazine vol.1 ataupun riset terkait perilaku merokok selama masa COVID-19,” tutur Ni Made Shellasih selaku Project Officer PKJS-UI.

Malam Penghitungan Suara Festival Pemilu Harga yang menyatakan kemenangan kepada rokok mahal turut menghadirkan ragam hiburan berupa penampilan stand up comedy, live music,serta pembacaan puisi dan pantomim. Di malam penghitungan suara, talkshow menghadirkan Pak Zainudin, perwakilan dari Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia. Beliau merupakan penyintas kanker laring. Ditampilkan pula cerita inspiratif dari Suara Tanpa Rokok dan Puan Muda yang telah menyuarakan
urgensi partisipasi anak muda dalam pengendalian tembakau.

“Ya, kami ingin menunjukkan besarnya antusiasme anak muda dalam pengendalian konsumsi tembakau melalui kebijakan cukai rokok ini. Kami juga ingin mempromosikan bahwa anak muda tetap bisa keren dan kreatif tanpa rokok. Saya sangat senang 95% para pemilih di Festival Pemilu Harga menginginkan rokok harus mahal. Ini adalah suara masyarakat, suara anak muda.

Di sini kami bukan menuntut atau mengemis, kami hanya memberikan dukungan kepada Menteri Keuangan ataupun Presiden untuk memahalkan rokok demi membatasi akses keterjangkauan rokok ke anak-anak dan keluarga miskin melalui kampanye kreatif. Pertanyaanya sekarang adalah apakah para pengambil kebijakan mau didukung anak muda atau tidak? Jawabanya dapat kita lihat nanti melalui pengumuman Peraturan Menteri Keuangan tentang tarif cukai tahun 2021 yang akan segera dikeluarkan dalam beberapa minggu kedepan,” tutup Iman Mahaputra Zein selaku Advocacy & Communication Coordinator CISDI.