Logo Senin, 26 Oktober 2020
images

Ev. Indriati Tjipto Purnomo

Banyak orang berkata dirinya sedang mempunyai banyak masalah. Jadi bagaimana mungkin memikirkan kesehjateraan orang lain? Pendapat itu menurutnya keliru karena justru disaat kita memikirkan kesehjateraan orang lain, disitulah umat Tuhan akan mendapat kekuatan baru dan berkat.

JAKARTA, MAJALAHREFORMASI.com- Imbas dari pandemi bukan saja hanya pada kesehatan, namun juga perekonomian global. Dampak yang cukup besar sudah dirasakan di berbagai negara, termasuk di Indonesia dengan adanya pandemi ini melemahkan sektor ekonomi.

Akibatnya, banyak perusahaan yang merugi dan melakukan PHK, bahkan beberapa negara secara resmi sudah mengumumkan bahwa negaranya sedang krisis ekonomi atau resesi, seperti Korea Selatan dan Singapura.

Hal ini tentunya membuat ketakutan, kebingungan dan kesedihan bagi sebahagian orang termasuk umat Kristen. Bahkan bukan tidak mungkin imannya juga mulai goyah.

Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah bagaimana agar anak Tuhan tetap punya iman yang kuat ditengah krisis ini? Menurut Ev. Iin Tjipto, anak Tuhan tidak perlu takut berlebihan karena sebenarnya Alkitab jauh-jauh hari sudah menubuatkan hal ini, bahwa akan ada masa yang sukar, gempa bumi dan penyakit sampar.

Injil juga menulis bahwa sebelum kedatangan Tuhan di awan-awan akan ada tanda-tanda yang mendahului, yakni: munculnya penyakit sampar, tsunami, peperangan, dan gempa bumi.

"Jadi sebenarnya kita sudah ada di masa awal pengujian atau kesusahan besar, ini merupakan ciri awal," ujar hamba Tuhan yang bergelar Master of Architecture jebolan TU Delft Belanda ini dalam wawancaranya dengan majalahreformasi.com.

Untuk itu, anak-anak Tuhan dituntut untuk meresponi hal ini dengan benar. Seperti tercatat dalam Yehezkiel 22:30 'Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya.'

Ev. Iin Tjipto menuturkan, sesuai dengan tuntunan Alkitab, inilah saatnya anak-anak Tuhan mendirikan tembok doa, pujian penyembahan dan unity. Kita tetap melakukan protokuler kesehatan seperti mencuci tangan, pakai masker, dna menjaga kesehatan. Tapi tetap ada faktor Tuhan yang memegang peran utama dalam hidup ini.

“Tembok doa berdiri saat kita menaikkan doa-doa karena ada kekuatan dalam doa, tembok pujian penyembahan dinaikkan saat kita memilih menggunakan waktu kita untuk memuji menyembah Tuhan di tengah kebimbangan, kesukaran, dan tembok unity (persatuan) diantara anak-anak Tuhan juga gerejaNya."

"Karena ini saatnya kita semua bergandengan tangan dan bersatu. Saat tembok ini berdiri, maka sakit penyakit dan krisis tidak dapat mendekat. Inilah waktunya berdoa dengan sungguh."

Ia mengajak seluruh umat Tuhan untuk berdoa bagi keluarga, kota dan bangsa agar Tuhan melindungi. Sebab doa-doa yang dinaikkan tidak akan pernah sia-sia. Mujizat dan keajaiban sedang terjadi saat umatNya berdoa dan percaya.

Ev. Iin Tjipto bercerita, ada seorang ibu yang selalu mendoakan anaknya. Setiap anaknya pergi, ibu ini selalu masuk kamar untuk berdoa dan menyembah. Namun suatu ketika ibu ini merasa sedih dan membuatnya semakin kyusuk berdoa meminta perlindungan untuk kelurganya.

Satu jam kemudian ibu ini mendapat kabar dari rumah sakit bahwa anaknya kecelakaan. Setibanya di rumah sakit, ia disuruh ke kamar mayat, sontak ibu ini syok, dengan kuatir mencari anaknya diantara tubuh korban satu persatu. Setelah menemukan anaknya diantara jejeran kantong mayat, berteriaklah ibu ini sambil memanggil namanya dan ajaibnya, mata anaknya terbuka.

Semua orang kaget karena awalnya sudah tidak ada lagi nadi di anak ini. Ajaibnya, setelah lewat pemeriksaan melalui Magnetic Resonance Imaging (MRI) ternyata tidak ditemukan luka apapun dan darah itu bukan miliknya.

Sang anak menceritakan pengalamannya waktu di angkutan umum: Saat itu ia merasa ingin menyembah Tuhan. Anak ini lalu bernyanyi dan akhirnya tertidur dengan sebuah bantal besar yang tiba-tiba ada disana. Saat terbangun, ia sudah di rumah sakit.

Ia percaya perlindungan Tuhan nyata dan beberapa kali hamba Tuhan ini menyaksikan hal ini terjadi dalam kehidupan pribadinya. Pernah satu ketika pencuri masuk rumahnya dan melihat-lihat barang yang ada disana. Hal itu terekam di CCTV sehingga terlihat jelas pencuri ini sedang mencari sesuatu tetapi tidak menemukan, lalu segera pergi.

Menurutnya, perlindungan Tuhan dengan segala macam bentuk sudah tersedia bagia semua anak Tuhan jika anak Tuhan senantiasa berdoa membangun tembok doa, sebab itu meluputkan dari banyak malapetaka.

Kedua, dalam Injil Yeremia 29:7 ditulis 'Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah' untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.'

Kata Ev. Iin Tjipto, banyak orang berkata dirinya sedang mempunyai banyak masalah. Jadi bagaimana mungkin memikirkan kesehjateraan orang lain? Pendapat itu menurutnya keliru karena justru disaat kita memikirkan kesehjateraan orang lain, disitulah umat Tuhan akan mendapat kekuatan baru dan berkat.

Hamba Tuhan yang mempunyai dua orang anak ini yang masing-masing bernama Stephen Timothy dan Joshua Christian ini bersaksi. Di Yayasan dan sekolah yang ia kelola, seluruh siswanya adalah keluarga yang terkena dampak dari pandemi dan di-PHK.

Profesi orang tua murid di tempatnya pada umumnya adalah pedagang asongan, petugas kebersihan, karyawan restoran, satpam kasir. Ia bersama tim akhirnya memutuskan untuk mengumpulkan uang dan membeli sembako, membagikannya untuk membantu mereka.

Suatu saat ketika ia dan tim sedang membagi paket sembako, mereka melihat ada warga yang mengasah pisau panjang, lantas ia bertanya, "Buat apa mengasah pisau yang besar?"

"Ibu, saya tidak bisa melihat anak saya mati kelaparan, saya mau menjarah toko," jawabnya kepada Ev. Iin Tjipto dan timnya.

Ini mengagetkannya sekaligus sedih dan menasehatinya untuk mulai doa, belajar percaya kepada Tuhan. Dan puji Tuhan, katanya, beberapa waktu kemudian orang ini bersaksi bahwa sembako itu bisa bertahan hingga satu bulan.

Bukan itu saja. Sejak saat itu beberapa orang mulai meminta bantuannya termasuk minta pekerjaan sehingga mereka punya pemasukan. Ia mendapat pekerjaannya seperti membersihkan rumah, berkebun, mengecat pagar dan hingga hari ini banyak yang membutuhkan tenaganya.

Ada sesuatu yang ajaib, menurutnya setiap kali orang bertindak untuk kesehjateraan orang lain. Alkitab dengan jelas berkata siapa menabur maka ia akan menuai.

Ev. Iin juga membeberkan saat ini paket sembako yang ia bagikan justru berasal dari para donatur dengan jumlah yang banyak dan tidak berhenti berdatangan.

"Saya kerap dihubungi oleh toko-toko, supermarket, organisasi kemasyarakatan sampai partai politik dan mereka terus membagi sembako sangat banyak untuk disalurkan hingga saat ini," tuturnya sambil tersenyum.

Tuhan adalah pribadi yang sangat baik dan tidak pernah berhutang, maka lakukanlah kesejahteraan kepada orang lain.

"Inilah waktunya anak Tuhan bergerak, bertambah kuat, jadi berkat kepada sesama," imbuhnya.

Hal Positif dibalik Kesusahan
Dalam segala hal, Alkitab mengatakan Tuhan mereka-reka dan membawa kebaikan, seperti kisah Yusuf. Ada orang yang mereka-reka kejahatan seperti yang Yusuf alami saat itu, dengan dilempar ke dalam sumur lalu dijual oleh saudara-saudaranya, difitnah dan dimasukkan ke penjara. Tetapi tetap Tuhan memegang kendali, memulihkan dan memuliakan hidupnya.

Seperti ada tertulis bahwa Tuhan bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihiNya, di tengah pandemi dan krisispun kita akan tetap mengecap dan mengalami kebaikan-kebaikan Tuhan.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa hari-hari ini adalah hari-hari yang jahat, dan Alkitab sudah mengatakan itu. Anak Tuhan sepatutnya menggunakan waktu yang ada untuk membaca dan mendengarkan Firman, menyembah, mengasihi sesama dan membina hubungan dalam keluarga.

"Saya percaya dibalik ini semua kalau kita berjalan denganNya maka Tuhan akan mereka-reka yang baik. Ada mujizat, keajaiban dan berkat," ucapnya.

Diakhir wawancara ia juga menghimbau untuk semua gereja bangkit dan bersinar, menjadi garam serta terang dunia, melayani umat Tuhan dengan segala permasalahannnya.

Seperti diketahui, istri dari Benjamin Paul Wenas ini adalah pendiri Yayasan Mahanaim yang menaungi:
- Sekolah Mahanaim (TK, SD, SMP, SMA, SMK, Mahanaim English Primary, Mahanaim English Secondary)
- Sekolah Perhotelan Manggala Utama
- Sekolah Tinggi Teologi Kerusso Indonesia.
- Rumah singgah.
- Pelayanan anak jalanan.
- Dapur umum House of Mercy. (DAVID)