Logo Minggu, 25 Oktober 2020
images

Foto bersama saat Diskusi Interaktif SOSIAL EMOSIONAL ANAK GIFTED

JAKARTA, MAJALAHREFORMASI.com - "Saya menyesal sekali, saya sudah melakukan kekerasan pada anak saya. Saya tidak tahu jika ternyata sifat anak saya yang tidak mau menurut bahkan melawan itu merupakan sebagian dari sifat anak Gifted," demikian sering kali penyesalan orang tua, yang tidak pernah menyangka bahwa prilaku dan emosi anaknya yang sangat sensitif dan intens merupakan kateristik Gifted child.

Sama seperti pengalaman sosok wanita yang akrab dipanggil Yeni ini ia awalnya tidak mengira bahwa anaknya adalah anak Gifted.

"Saya sempat mencap anak saya sebagai orang yang nakal, bandel dan bodoh karena prilakunya, bukan itu saja anak saya juga sering di bully teman-temannya. Jadi bukan bukan hal yang mudah mempunyai anak kategori gifted apalagi saat itu saya tidak tahu dan belum punya pengetahuan mengenai Gifted child," tandasnya.

Hingga suatu saat penilaian nya mulai berubah setelah ia membaca novel Science Fiction karya putranya dengan memakai bahasa Ingris padahal tidak pernah les sebelumnya dan kedua orang tuanya tidak bisa berbahasa asing.

Yang membuatnya takjub adalah bagaimana ia menuliskan novel yang rumit untuk seseorang yang kelas satu SMP. Ia menuliskan dengan lengkap pengalamannya masuk kedunia lain yang futuristik beserta tekhnologinya.

"Saya berusaha untuk bisa menerbitkan karya putra saya ini kedalam sebuah buku dan berusaha menebus rasa bersalah saya kepada anak saya karena selama ini saya juga sering berlaku kasar terhadapnya. Buku ini juga pernah dipamerkan di Frankfurt Book Fair 2015," tutur wanita ini saat dijumpai di dalam satu acara Diskusi Interaktif Sosial Emosional Anak Gifted, Sabtu (21/09) pagi di FX Sudirman.

.Hal senada juga dikatakan oleh Julia Maria Van Tiel, seorang aktivis pendidikan dan aktif melakukan advokasi anak gifted. Sebelum membahas lebih jauh, imbuhnya harus paham pengertian gifted ini apa? artiannya antara satu negara dengan negara lain berbeda, tetapi kalau mengacu di negara Belanda tempat ia bermukim saat ini yaitu satu anak yang punya intelegensi yang luar biasa tetapi mempunyai pola perkembangan yang tidak sinkron.

"Jadi kepribadiannnya sangat kompleks, sensitif, intens dan sangat otonom karena mempunyai motivasi internal luar biasa kuat," imbuhnya.

Akibat ketidaktahuan dari para orang tua sehingga anak ini rentan dengan kekerasan bahkan oleh orang terdekat menurutnya ini karena defenisi anak gifted yang dipakai di Indonesia masih yang lama yaitu, anak yang punya intelegensi luar biasa dan punya prestasi padahal perkembangan sosial anak itu punya resiko. Akibat perkembangan tidak sikron motivasi internal dan sulit dibelokkan dan ini tidak pernah dibicarakan.

Dalam bukunya yang berjudul perkembangan sosial emosi anak gifted diterangkan bahwa anak-anak ini memiliki kehidupan batin yang kaya dan selalu bergolak, penuh dengan idealisme, tetapi juga keraguan diri, persepsi yang dalam, kepekaan yang luar biasa, menuntut keharusan moral dan cinta. Mereka merasakan segalanya sangat intens dan melihat segalanya bagai lapisan-lapisan penuh makna yang bermuatan listrik.

Yang terpenting tetap menjaga kebersamaan/kerja sama yang kompak antara ayah dan ibu, karena ketidakkompakan hanya akan merugikan perkembangan sosial emosional anak, apalagi saling menyalahkan. Orang tua harus mampu menerima 'keanehan anak' untuk melakukan pendekatan secara baik.

"Jangan melakukan kekerasan karena hal itu akan menimbulkan ketidak nyamanan anak, tetap bersabar dalam menuntun anak karena walaupun anak gifted ini mampu mampu melakukan penyusuaian diri dengan lingkungan namaun tetap ia merasa dirinya aneh seperti alien. Jadikan anak anda sebagai teman untuk mengeluarkan isi hati," katanya dalam buku itu.

Yang menarik lagi menurut Julia salah satu atau kedua orang tua anak-anak ini adalah juga individu yang gifted, sehingga waktunya sering dipakai untuk menekuni hobby tetapi disarankan untuk meluangkan waktu untuk berbicara dengan anak.

"Sekedar berbicara menanyakan bagaimana perasaannya, rencananya. Mengajak keluar barjalan-jalan mengerjakan hobby bersama dan berbicara dari hati ke hati," tulisnya.

Kepada majalahreformasi.com Julia menyebut masalah yang kerap muncul di Indonesia bahwa diagnosa Dokter dan Phisiolog terhadap anak gifted ini sering keliru. Itu karena pemahaman antara para Phisiolog dan Dokter ini juga terhadap anak-anak ini berbeda.

Ia juga menegaskan bahwa jumlah anak gifted ini sangat banyak yaitu sekitar 2,5-5% itu adalah asset negara bisa dibayangkan jika penanganan nya anak ini baik, dampaknya bagi Indonesia pasti besar.

Saat ini diakuinya negara masih minim untuk melindungi anak Gifted ini banyak dari anak-anak  yang keliru diagnosa, terlantar dalam  penanganan  dan sekolahnya.

"Memang masih dibutuhkan jalan panjang bagi anak gifted ini, oleh karena itu negara harus hadir disini untuk bisa memberi solusi dan perlindungan terhadap mereka," pungkasnya. (David Pasaribu)