Logo Senin, 5 Desember 2022
images

MAJALAHREFORMASI.com - Sebuah perang, dimanapun dan kapanpun itu terjadi, pasti menimbulkan dampak buruk bagi stabilitas politik, keamanan dan ekonomi. Secara politik, negara-negara yang berperang tentu saja mengalami hubungan yang buruk dan hal ini akan mempengaruhi stabilitas politik kedua negara serta stabilitas politik di kawasan dan internasional. 

Demikian dikatakan Direktur Center for Security and Foreign Affairs Studies (Cesfas), UKI (Universitas Kristen Indonesia), Angel Damayanti atau yang akrab disapa Angel saat ditemui wartawan baru-baru ini di Jakarta.

Angel mengatakan, perang Rusia dan Ukraina telah menimbulkan instabilitas politik negara-negara terutama di Eropa dan mereka yang tergabung dalam NATO. Perbedaan pandangan politik negara-negara terhadap posisi Rusia dan Ukraina tentunya menimbulkan pertentangan dan instabilitas politik di kawasan bahkan internasional.

"Perang pasti mengakibatkan gangguan keamanan terhadap suatu negara dan menimbulkan korban jiwa, meninggal atau luka-luka, baik dari pihak militer maupun masyarakat sipil," ujar Dosen Hubungan International, UKI ini.

Perang juga menimbulkan kehancuran fisik termasuk gedung-gedung pemerintahan, jalan, rumah sakit, sekolah, tempat-tempat logistik dan tempat-tempat strategis lainnya. Apalagi jika menggunakan senjata nuklir yang dampak kerusakannya sangat besar dan massif. 

Bagaimana dampak perang ini bagi Indonesia? Menurut Dosen Program Doktoral, STIK/PTIK ini secara ekonomi, pada saat perang umumnya seluruh sumber daya, diarahkan untuk perang. Akibatnya, perekonomian negara tersebut terganggu, dan pada gilirannya juga akan mengganggu rantai pasokan ke negara-negara lain karena saat ini negara-negara di dunia memiliki ketergantungan ekonomi satu sama lain. 

Jika Indonesia memiliki ketergantungan terhadap Rusia atau Ukraina secara ekonomi atau sebaliknya, maka aktivitas eksport dan import barang yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan kedua negara ini akan terganggu. Itu artinya jelas Indonesia juga akan terkena dampaknya. 

Ukraina, kata dia, merupakan negara pemasok jagung, gandum, sereal dan gas serpih ke berbagai negara termasuk ke Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Asia. Perang Rusia dan Ukraina ini tentu akan mempengaruhi pasokan jagung, gandum dan seraeal yang menjadi bahan baku makanan pokok di negara-negara ini. 

Sama hal nya dengan Rusia yang menjadi negara pemasok energi (minyak dan gas alam-red) dan logam-logam berharga. Sementara berperang, Rusia tentu akan mengarahkan produksi energinya untuk kebutuhan di dalam negeri. "Energi bisa menjadi langka di pasar internasional dan harganya melambung. Negara-negara yang bergantung pada migas Rusia ini juga akan mengalami gangguan pasokan," jelas Angel 

Bagi Indonesia, yang saat ini sedang menjabat Ketua Presidensi G20, Perang Rusia dan Ukraina bisa menjadi peluang untuk Indonesia meningkatkan peran dan pengaruhnya. Apalagi Rusia juga anggota dari G20. Meskipun G20 ini lebih banyak membahas tentang kerjasama ekonomi, namun Indonesia bisa menjelaskan dampak buruk perang terhadap perekenomian suatu negara dan internasional. 

Angel juga menilai pemerintah Indonesia melalui Kemenlu telah menyuarakan posisi politik negara kita. Ini merupakan satu hal yang baik dan patut diapresiasi karena Indonesia telah bersikap aktif dalam upaya perdamaian dunia. Namun dalam seruannya, jangan terkesan Indonesia menyalahkan atau mendukung secara politis terhadap salah satu negara. 

"Indonesia perlu menyampaikan sikap tegas bahwa invasi suatu negara berdaulat terhadap negara berdaulat lainnya melanggar hukum internasional dan perang hanya akan menyengsarakan umat manusia," kata Angel.

Indonesia tidak perlu menyatakan keberpihakan atau dukungan kepada salah satu pihak karena itu akan menyulitkan posisi Indonesia jika Indonesia mau berperan lebih besar dalam upaya resolusi konflik di antara Rusia dan Ukraina. 

Saat ditanya wartawan sejauh mana dampak upaya embargo negara barat atau NATO bagi Negara Rusia, Wakil Rektor Kemahasiswaan, Alumni dan Hukum, UKI tersebut mengungkapkan hal ini bisa menjadi Langkah yang efektif jika negara yang diembargo tersebut memiliki ketergantungan ekonomi terhadap negara-negara yang melakukan embargo. 

Namun, jika negara tersebut tidak memiliki ketergantungan ekonomi terhadap negara-negara yang melakukan embargo, maka tidak banyak memberikan manfaat. Negara yang diembargo dapat tetap melanjutkan hubungan baik dan kerjasama ekonomi dengan negara-negara lain yang tidak mengembargo. 

Artinya, jika Rusia tidak memiliki ketergantungan terhadap AS dan negara-negara Eropa Barat, maka embargo AS dan NATO tidak akan memberikan hasil signifikan apalagi merubah sikap Rusia, karena Rusia dapat tetap berhubungan baik dan bekerjasama dengan Tiongkok. "Sudah terbukti AS dan Eropa memberikan embargo namun gagal untuk mengubah sikap atau perilaku negara yang diembargo seperti yang terjadi pada Iran dan Korea Utara," pungkas Angel. (David)