Logo Jumat, 30 Juli 2021
images

Fredrik J. Pinakunary, S.H., S.E

JAKARTA, MAJALAHREFORMASI.com-  Ketua umum Perhimpunan Profesi Hukum Kristiani Indonesia (PPHKI) Fredrik J. Pinakunary, S.H., S.E menanggapi polemik buku pelajaran Agama Islam dan Budi Pekerti bagi siswa kelas 8 SMP dan kelas 11 SMA yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 2014. Sebagaimana diketahui, buku ini menuai protes karena dinilai menyinggung agama lain.

Menurutnya, secara prinsip, kaidah atau keyakinan yang dianut oleh satu agama pasti ada perbedaan-perbedaan dengan agama dan kepercayaaan yang lain. "Walaupun setiap agama pada umumnya mengajarkan kebaikan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa cukup banyak perbedaan diantara berbagai agama dan kepercayaan yang tidak mempunyai titik temu," ujarnya saat ditemui di kantornya di bilangan SCBD, Jakarta Selatan, Senin (8/3) siang.

"Apa yang diyakini oleh satu agama dan kepercayaan belum tentu diyakini oleh agama dan kepercayaan lain. Bisa saja apa yang diyakini oleh satu agama dan kepercayaan dianggap keliru bahkan sesat oleh agama dan kepercayaan lainnya karena ada berbagai hal prinsip keimanan yang memang berbeda dan tidak dapat disamakan," sambungnya menambahkan.

Sehingga, menurutnya hal itu tak perlu ditanggapi karena itu adalah masalah internal dalam Pendidikan agama Islam. Bagaimana buku itu menilai Injil dan Taurat tentunya didasarkan oleh pemahaman pembuat buku tersebut terkait Injil dan Taurat. Namun sebagai umat Kristiani, imbuh dia, kita mempunyai pemahaman tersendiri tentang Injil dan Taurat yang dapat berbeda dengan pandangan penulis buku pelajaran Pendidikan agama Islam tersebut.

"Penafsiran, penilaian dan pemahamannya didasarkan pada referensi dan perspektif iman mereka sendiri yang bisa jadi berbeda dengan referensi dan perspektif iman Kristiani," jelasnya.

Saat ditanya apakah pelajaran Agama masih penting di ajarkan di sekolah-sekolah? Menurut Pengacara yang banyak menangani kasus pidana dan perdata, baik dalam negeri maupun internasional ini menegaskan bahwa pelajaran agama sangat penting dan relevan untuk diajarkan di sekolah-sekolah. Ia menganjurkan agar siswa tidak hanya diberikan pengetahuan yang logis saja ketika di sekolah. Namun juga dibekali dengan iman atau sesuatu yang lebih tinggi dari logika (beyond logic) manusia agar kelak mereka bukan hanya sekedar menjadi orang pintar dan cerdas, tetapi juga menjadi pribadi yang berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia.

Fredrik juga berharap pelajaran agama lebih menitikberatkan kepada pengenalan dan pendalaman masing-masing agama yang tentunya menghadirkan kedamaian, kasih, sukacita dan saling menghargai dan menghormati diantara sesama anak bangsa yang majemuk baik dari sisi suku, agama, ras dan golongan. (DAVID)