Logo Senin, 26 Oktober 2020
images

          Alkitab adalah kitab suci orang Kristen. Sebagaimana orang-orang berkepercayaan lain memandang kitab sucinya masing-masing. Demikian orang Kristen memandang Alkitab sebagai buku yang sangat berharga dan mulia. Entah mereka membacanya atau hanya mengoleksinya, kalau mereka ditanyakan apakah Alkitab penting, pasti mereka menjawab dengan tegas “ya!”

          Kalau memang Alkitab penting dan menentukan dalam kehidupan kekristenan, maka pertanyaan seterusnya adalah, mengapa penting dan seberapa jauh kepentingan itu mempengaruhi hidup orang Kristen. Kalau Alkitab penting, mengapa tidak banyak orang Kristen membacanya apalagi yang menyediakan waktu khusus untuk membaca dan merenungkan?

          Tulisan ini akan dibagi menjadi dua bagian. Pertama, mengapa Alkitab penting sebagai sentra kehidupan orang Kristen. Bagian kedua adalah apa langkah-langkah praktis yang harus diambil agar kehidupan orang Kristen benar-benar berpusatkan pada Alkitab.

 

  1. Mengapa Alkitab penting sebagai sentra kehidupan Kristen?

 

Dari sifat Alkitab

Kita mulai dengan pertanyaan dari Alkitab sendiri. Para penulisnya, baik secara eksplisit maupun implisit mengklaim bahwa tulisan mereka merupakan firman Tuhan. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru penuh dengan pernyataan para penulisnya bahwa mereka menerima pernyataan dari Allah untuk disampaikan kepada orang-orang lain, baik secara lisan maupun tertulis.

    Beberapa contoh bisa diberikan. Di dalam kitab Keluaran kita membaca bahwa Musa menerima panggilan Tuhan untuk memberitakan firman Tuhan kepada umat Israel (Kel. 3). Isi firman Tuhan tersebut secara ringkas adalah bahwa Tuhan telah melihat kesengsaraan mereka serta mendengarkan jeritan minta tolong mereka dan memutuskan untuk membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir serta membawa mereka ke tanah Kanaan sebagaimana yang pernah Tuhan janjikan kepada nenek moyang mereka, Abraham. Musa dicatat sebagai penerima firman Tuhan langsung dari mulut Tuhan untuk disampaikan kepada Israel yang mengatur kehidupan mereka setelah keluar dari Mesir,  disepanjang perjalanan di padang gurun, dan kelak setelah mereka menetap di tanah Kanaan. Musa juga diperintahkan untuk menuliskan peraturan tersebut, yang dikenal sebagai kitab perjanjian (Kel 24:4-7). Musa menulis lagi beberapa hal, yang bersangkutan dengan perjalanan umat Israel di padang gurun (Bil 36:24), kemudian sekali lagi dan lebih lengkap Musa menuliskan peraturan Taurat yang baru saja ia sampaikan di dalam khotbah-khotbah terakhirnya kepada generasi kedua umat Israel yang siap untuk masuk ke tanah Kanaan. (Ul 31:24).

    Daud berkata dalam salah satu mazmur gubahannya yang dicatat di 2 Samuel 23:1-7, bahwa “Roh Tuhan berbicara dengan perantaraanku, firmanNya ada di lidahku” (2) Tuhan Yesus menegaskan bahwa apa yang Daud sampaikan lewat mazmurnya (Mzm 110) adalah firman Allah (Mat 12:36).

    Para nabi Perjanjian Lama dengan tegas menyatakan bahwa mereka menerima Firman Tuhan yang harus mereka sampaikan kepada umat Israel (lihat Yes 6:9; Yer 1:4; Yeh3:4; dst). Berita yang mereka sampaikan bukan berita yang menyenangkan pada awalnya, yaitu berita pembongkaran dosa dan penghukuman  dari Tuhan yang harus umat alami. Namun berita tersebut juga menjanjikan pengampunan dan pemulihan setelah mereka melalui masa penghukuman.

    Di Perjanjian Baru, Paulus mengklaim menerima penyataan dari Tuhan Yesus (Gal. 1:11-12) yang membuat dia menjadi rasul yang dicatat paling giat dalam pengabaran Injil dan juga dalam menuliskan surat-suratnya. Surat-surat itu diterima oleh Rasul Petrus sebagai setara dengan tulisan-tulisan Perjanjilan Lama, yaitu sebagai firman Tuhan (2Ptr 3:15-16).

    Rasul Yohanes dalam kitab Wahyu menerima penglihatan dari Tuhan Yesus yang memerintahkan dia untuk menulisakan surat kepada tujuh gereja di Asia Kecil yang berisikan firman Tuhan untuk mereka (Why 1:9-11). Surat-surat tersebut dicantumkan Yohanes kemudian di pasal 2 dan 3 kitab tersebut.

    Klaim dari para penulis Alkitab bahwa mereka menerima wahyu dari Tuhan dan menuliskannya di dalam kitab-kitab tersebut. Isi firman Tuhan secara konsisten adalah pengungkapan rencana Allah untuk menyelamatkan umat manusia yang dibelenggu oleh dosa. Rencana Allah tersebut melibatkan Allah sendiri yang hadir dalam sejarah manusia dan juga melibatkan umat Tuhan yang menjadi agen atau sarana penggenapannya.

    Alkitab penting dan menjadi sentra dalam kehidupan orang percaya karena merupakan pemaparan rencana Allah untuk menyelamatkan semua manusia. Berarti setiap orang yang percaya adalah orang yang sudah mengalami bagaimana rancana Allah tersebut terealisasi dalam kehidupannya. Lebih dari pada itu, rencana penyelamatan itu juga melibatkan setiap orang percaya sebagai alat anugerahNya bagi orang-orang lain yang belum mengalaminya.

    Alkitab sendiri menegaskan dengan berbagai cara mengenai pentingnya menyadari menerima rencana Allah tersebut bagi setiap orang yang membacanya, serta melibatkan diri dalam perealisasian rencana tersebut sesuai dengan petunjuk Tuhan. Misalnya Perjanjian Lama memaparkan kisah tindakan Allah menyelamatkan Israel dari perbudakan Mesir. Lalu Perjanjian Lama juga mengajarkan bagaimana Israel harus bertindak sebagai umat yang sudah diselamatkan melalui peraturan-peraturan yang dipaparkan oleh Musa kepada mereka. Tujuan pemberian peraturan itu pun dinyatakan yaitu agar mereka menjadi umat yang kudus dan menjadi imam bagi bangsa-bangsa lain (Kel 19:5-6). Perjanjian Lama

memberikan contoh hidup umat yang taat atau tidak taat kepada perintah Allah lewat Taurat dengan kitab-kitab yang akan mereka alami. Lewat para nabiNya, Allah memperingatkan umat sebelum akibat maupun hukuman karena ketidaktaatan itu mereka alami. Dan akhirnya, Perjanjian Lama juga memakai respons-respons umat Tuhan yang dinyatakan lewat puisi-puisi mereka yang memuji Allah karena kebaikan dan kebesaranNya serta mensyukuri rencana dan tindakanNya bagi umatNya. Dari bagian ini orang belajar merespon Allah dengan tepat.

    Sejajar dengan Perjanjian Lama, Perjanjian Baru juga memaparkan secara puncak tindakan Allah menyelamatkan semua manusia lewat peristiwa inkarnasi, kayu salib, dan kebangkitan yang dialami Tuhan Yesus, Kisah Para Rasul memaparkan respons gereja perdana kepada perintah Tuhan Yesus untuk mewartakan kabar baik tentang keselamatan di dalam Tuhan Yesus ke seluruh dunia. Surat-surat Paulus dan surat-surat umum memberi petunjuk baik secara prinsip teologi bagaimana memahami karya penyelamatan Allah tersebut, maupun secara praktis bagaimana menjalani kehidupan yang sudah diselamatkan tersebut. Akhirnya, kitab Wahyu menegaskan ulang akan kedaulatan Allah dan kemahakuasaanNya untuk merealisasikan penuh rancanaNya bagi seisi dunia dengan memastikan bahwa setiap musuh Allah pada akhirnya tidak berdaya dan akan dimusnahkan!

    Alkitab adalah sentra kehidupan orang percaya karena Alkitab memaparkan bukan hanya rencana Allah dan perealisasianNya menyelamatkan manusia, tetapi juga kehendakNya melibatkan setiap orang percaya dalam pewartaan kabar baik sekarang ini. Sejauh ini telah dipaparkan kenyataain klaim para penulis Alkitab mengenai tulisan-tilusan mereka yang merupakan respons mereka kepada perintah atau dorongan dari Allah sehingga isinya sesuai dengan kehedak Allah dalam menyatakan rencana penyelamataNya bagi dunia ini.

    Alkitab tidak hanya sejarah yang berorientasi pada masa lalu. Alkitab berbicara relavan setiap zaman. Sejarah yang dipaparkan Alkitab memiliki kesinambungannya dengan sejarah yang berlanjut dalam sejarah gereja sampai dengan sekarang ini bahwa sampai kelak kedatangan Kristus kedua kali.

    Ketika berbicara masa kini, ada baiknya mengingat bahwa memang Allah ditulis ribuan tahun lalu. Namun, Alkitab ditulis bukan hanya untuk generasi masa lalu. Para penulis Alkitab mengarahkan pemberitaan mereka juga untuk generasi-generasi yang akan datang. Bahkan sepagi di tulisan-tulisan Musa kita telah menemukan adanya janji, perintah, dan pengharapan untuk generasi sesudah zaman Musa, yaitu genersi yang akan masuk ke tanah Kanaan untuk menikmati penggenapan janji tersebut.

    Misalnya, janji mengenai seorang nabi seperti Musa yang akan datang kemudian (Ul. 18:15-19). Ternyata janji ini bukan dimaksudkan untuk tokoh tertentu pada masa segera sesudah Musa. Penggenapan janji ini bisa dimengerti sebagai munculnya nabi-nabi pada masa kerajaan yang bernubuat pada masa mereka dengan memakai bahan dasar Taurat yang sudah diajarkan Musa pada generasi awal Israel. Para nabi berkhotbah, baik menegur dosa umat, mendorong mereka bertobat, meninggalkan dosa-dosa tersebut, maupun mengancamkan penghukuman bagi mereka yang menolak bertobat, serta memberikan janji pemulihan di masa mendatang. Secara prinsip khotbah mereka, baik yang bersifat masa kini maupun masa mendatang ternyata berdasarkan Taurat yang sudah diberikan pada masa lampau.

    Janji akan bangkitnya seorang nabi seperti Musa tersebut ternyata di kemudian hari ditangkap oleh penulis Perjanjian Baru sebagai digenapi oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesuslah yang meneguhkan Taurat dan yang secara penuh menyajikan kebenaran sejati. Dia adalah Firman itu sendiri, Sang Kebenaran sejati. Dialah yang merupakan penyataan Allah secara penuh lewat pengajaranNya dan lewat seluruh hidup dan karyaNya. Jadi, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mempunyai inti pembicaraan yang sama. Keselamatan umat manusia melalui agen yang Allah tetapkan.

    Alkitab menjadi sangat relevan untuk semua orang percaya di sepanjang zaman karena merupakan kesaksian akan Tuhan Yesus sendiri yang menjadi pusat seluruh Alkitab. Bisa dikatakan bahawa Perjanjian Lama mengarahkan pembacaanya kepada Tuhan Yesus walau tidak secara langsung, tetapi dengan menunjungkan bahwa agen yang Allah pilih, yaitu Israel, pada akhirnya tidak berhasil dalam tugasnya sehingga Allah akan membangkitkan agen yang pasti sukses (Yes 24:1-7). Sedangkan Perjanjian Baru memperlihatkan Tuhan Yesus, sebagai agen Allah yang sukses sempurna menggenapi rencana penyelamatan tersebut. Keseluruhan kesaksian itu bertujuan untuk menundukkan semua manusia di bawah kedaulatan Kristus yang Allah telah tetapkan sebagai Tuhan (Flp 2:9-11) dan Juruselamat (Kis 4:12) satu-satunya untuk umat manusia.

    Alkitab relevan untuk semua orang percaya sepanjang zaman karena tugas pemberitaan kabar baik bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat umat manusia diletakkan di bahu mereka! Gereja adalah agen Allah tersebut. Setiap anggota gereja adalah agen Allah. Hanya waktu gereja mengerti panggilannya yang berdasarkan pengajaran Alkitab dan tentu menaati dengan sepenuh hati pengajaran tersebut, barulah gereja dapat menjadi saksi Kristus dan dengan pertolongan Roh Kudus memenangkan umat manusia kembali tunduk pada kedaulatan Allah.

 

Dari kebutuhan manusia

Manusia diciptakan dan akan tetap tinggal sebgai ciptaan. Manusia tidak akan pernah menjadi pencipta, sebab hanya Allah saja Sang Pencipta. Namun manusia diciptakan sebagai gambar Allah. Berarti ada kualitas Ilahi di dalam manusia. Menusia memiliki beberapa kapasitas Ilahi yang bisa berkembang sebatas kodratnya sebagai ciptaan.

    Namun dalam kenyataan, manusia telah jauth ke dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm 3:23). Kehilangan kemulian Allah berarti kapasitas, potensi, dan kualitas Ilahi yang ada di dalam diri manusia telah mengalami gangguan serius! Gangguan orientasi. Sebelum jatuh dalam dosa, orientasi manusia ada pada Allah. Allah adalah pusat hidup manusia. Segala perintah Allah adalah kebenaran yang fungsional. Yaitu manusia hidup dan mengembangkan diri sesuai dengan kodrat Ilahinya, langsung berdasarkan petunjuk Allah (Kej. 2:15-20). Sampai sekarang petunjung Allah mengenai bagaimana mengelola alam yang Tuhan ciptakan kepada manusia pertama itu masih relavan. Yang menjadi masalah adalah manusia tidak lagi menempatkan lagi perintah Allah tersebut sebagai kebenaran fungsional.

    Misalnya, manusia pertama mempertanyakan hak Allah dan meragukan itikad baik Allah memerintah dirinya (kej 3:6). Alih-alih berorientasi pada Allah, manusia memilih berorientasi pada dirinya sendiri dengar tipuan daya ular (Kej 3:1-5). Pada hakikatnya tipu daya ular adalah mengalihkan fokus manusia pada Allah, meragukan firmanNya dan mengarahkan fokus tersebut pada diri sendiri. Semua dilihat, dinilai, dan diputuskan berdasarkan untung rugi manusia. Manusia memutuskan berdasarkan apa yang ia lihat baik, benar, dan menguntungkan dirinya sendiri. Namun sebenarnya, tanpa disadari manusia telah menerima otoritas palsu ular (yang di baliknya adalah iblis; bnd Why 12:9) dan menolak otoritas Allah.

    Akibat dari kejatuhan manusia pertama, semua manusia terdisorientasi. Fokus hidup bukan pada Allah tetapi pada diri sendiri (kej 11:4) dan dengan tidak didasari berdasarkan petunjuk iblis. Alkitab dengan gamblang mencatat bahwa manusia yang karena berorientasi pada diri sendiri dan karena mendengar bujukan iblis, semakin hari semakin jauh dari kehendak Allah, semakin kehilangan kepekaan akan suaraNya, dan semakin dikendalikan oleh keinginan diri yang sebenarnya ada di bawah kendali Iblis.

    Manusia diperbudak oleh dosa (Yoh 8:34; bnd Kej 6:5) dan upah dosa adalah maut ( Rm 6:23a). Tidak ada upaya apapun dari pihak manusia yang sudah mati karena dosa-dosa mereka (Elf 2:1-3) yang dapat menyelesaikan masalah ini, kecuali kalau Allah sendiri bertindak menyelamatkan ciptaanNya.

    Dan Allah sudah bertindak! Dia sudah menyediakan jalan keselamatan, yaitu lewat Yesus Kristus yang mati menggantikan hukuman dosa manusia. Lewat kebangkitanNya, Yesus Kristus membuktikan diriNya telah menang terhadap kuasa dosa dan maut. Sehingga orang yang percaya dan menerima karya Kristus tersebut, dimerdekakan dari belenggu dosa, dibebaskan dari hukuman mati, dan diberikan hidup yang kekal. Karya Kristus membalikkan hidup manusia berdosa yang berorientasi kepada diri sendiri, menjadi kepada Allah.

    Semua pemaparan ini ada di Alkitab. Maka semua manusia membutuhkan Alkitab agar dapat mengertahui berita penting ini dan dapat mengalami keselamatan sejati (2Tim 3:15). Bukan hanya untuk orang yang belum percaya, tetapi juga untuk orang yang percaya, mengapa demikian?

    Pertama, orang percaya perlu bukan hanya tahu dirinya sudah diselamatkan, tetapi juga mengatahui bagaimana kemudian hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dia perlu mengatahui bagaimana cara hidup yang sesuai dengan kehidupannya yang baru, bagaimana hidup berorientasi pada Tuhan dan bukan pada diri sendiri, dan bagaimana hidupnya dapat menyenangkan Tuhan.

    Alkitab menjadi petunjung utama bagi orang percaya bagaimana hidup sebagai gambar Allah yang sudah diperbaharui dengan meneladani Tuhan Yesus yang adalah Gambar Allah yang sempurna. Baik petunjuk secara keteladanan, dari tokoh-tokoh Alkitab yang hidupnya sudah disentuh dan sedang diproses oleh Allah, maupun lewat pengajaran-pengajaran moral dan etika yang disertai contoh-contoh praktis, baik yang benar untuk ditiru, maupun yang keliru untuk dihindari.

    Alkitab penting dibaca dan direnungkan orang percaya karena orang percaya masih tinggal di dalam dunia yang sedang melawan Allah dan diri mereka sendiri masih rentan untuk jatuh di dalam dosa. Maka hidup berpusatkan firman Tuhan menjadi sangat penting untuk menangkal segala godaan dunia, tipu daya iblis, dan keinginan daging yang intinya menjauhkan orang percaya dari hidup yang berkemenangan, serta dapat menjadi saksi bagi orang lain yang masih di bawah belenggu kuasa dosa.

    Kedua, orang percaya perlu mengetahui bahwa Allah memanggil mereka untuk menjadi alat-alatNya untuk memberitakan kabar baik tersebut kepada orang lain. Hanya mereka yang sudah mengalami penyelamatan dari Allh yang bisa menjadi pengabar-pengabar Injil yang benar dan efektif.

    Memberitakan Injil adalah panggilan setiap orang percaya. Kesadaran bahwa tanpa Injil manusia akan binasa, dan tanpa pemberitaan Injil, Injil tidak akan sampai kepada manusia berdosa, seharusnya mendorong setiap orang percaya mempelajari Alkitab baik-baik. Tujuannya adalah agar semangat yang berkobar-kobar dari anak-anak Tuhan yang sudah dijamah hidupnya dan yang disaksikan Alkitab bisa dialami dan dirasakan juga oleh setiap anak Tuhan lainnya. Contoh, petunjuk serta prinsip-prinsip bisa dipelajari dan diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat.

    Ada satu lagi alasan mengapa orang Kristen butuh Alkitab. Mereka butuh Alkitab karena Alkitab merupakan sumber otoritas  dan kusas untuk menjalani kehidupan berkemanangan dan yang terus menerus menyaksikan Kristus kepada dunia ini.

    Alkitab adalah sumber otoritas sejati dan tertinggi. Setiap kali orang percaya membaca Alkitab, harus disertai keyakinan yang mutlak bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, berdaulat penuh atas semua aspek hidupnya. Hanya dengan demikian orang percaya akan tunduk mutlak kepada Tuhan melalui firmanNya. Ia akan dikuatkan untuk hidup sebagai anak-anak Tuhan betapa pun sulit situasi dan kondisinya.

    Mengakui Alkitab sebagai otoritas tertinggi untuk hidup anak-anak Tuhan, bukan hanya penting untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kesaksian  hidup di hadapan orang lain. Memang orang dengan kepercayaan lain akan menolak mengakui kedaulatan Alkitab atas hidup mereka. Akan tetapi, orang Kristen harus menunjukkan bahwa ia percaya penuh kepada Alkitab baru kesaksiannya akan berarti! Kepercayaan mutlaknya itu akan membuat orang Kristen sungguh-sungguh memiliki kepercayaan yang teguh pada Alkitab.

    Alkitab berkuasa untuk mengubah orang dari kekerasan hati yang menolak percaya kepada Kristus hingga menjadi petobat baru. Bukankah paulus bersaksi, ketika Sang Firman menegur dirinya, hal itu menjadi titik balik hidupnya (Kis. 9)? Bukankah Timotius muda menjadi percaya Yesus dan beroleh keselamatan karena membaca Perjanjian Lama (2Tim. 3:15)?

Banyak Kesaksian orang Kristen yang dulu bersikap

memusuhi kekrsitenan, menyerang Alkitab dan menolak Kristus, akhirnya bertobat dan lahir baru karena Alkitab yang ia baca dengan tujuan menyerang dan menghancurkan kredibilitasnya justru telah membongkar dirinya habis-habisan sehingga tidak dapat tidak ia harus percaya dan bertobat.

 

  1. Bagaimana menjadi Alkitab sentra kehidupan kristen?

 

Membangun disiplin rohani

Melihat kepentingan Alkitab dalam kehidupan orang percaya, tentu harus dilanjutkan dengan membangun kebiasaan untuk membaca Alkitab secara teratur. Disiplin rohani tentu bukan semata-mata membaca Alkitab, tetapi berawal dari sini.

    Membaca Alkitab Adalah langkah awal membuka diri kepada Tuhan. Dengan membaca Alkitab, anak Tuhan membuka dirinya untuk disentuh Tuhan secara pribadi. Alkitab tidak semata-mata memberikan informasi mengenai Tuhan dan apa yang Ia kehendaki, tetapi firman Tuhan menyentuh kehidupan mulai dari yang paling dalam, yaitu hati manusia. Saat Alkitab menyaksikan bahwa Allah adalah kasih, kasih itu bukan hanya sekedar atribut Allah meliankan TindakanNya yang nyata menyelamatkan  manusia, tindakan yang juga dialami oleh anak-anakNya. Membaca Alkitab berarti membuka hati untuk disentuh oleh kasih Allah dengan cara yang segar sekaligus mengalami ulang kasihNya yang tidak terbatas. Hasilnya adalah rasa haru, sukacita, damai, dan syukur tak habis-habisnya, juga disertai tekad untuk membalas kasihNya.

    Demikian juga waktu Alkitab menyaksikan kekudusan Allah. Setiap kali membaca hal tersebut, hati akan disentuh oleh kekaguman sekaligus kengerian karena sadar betapa tidak layaknya manusia, betapa rapuhnya hidup ini yang dengan mudah jatuh dalam kenajisan yang lama. Bukankah hasil tersebut menghasilkan tekad untuk hidup yang lebih kudus, serta untuk lebih bersandar pada Tuhan?

    Membaca Alkitab dan berdoa merupakan sepasang langkah mendasar dalam pertumbuhan iman seseorang. Dan menjadi respons yang tepat dari pembacaan Firman Tuhan. Doa memampukan seorang anak Tuhan untuk tidak hanya mengerti firman Tuhan, tetapi menerapkannya dalam kehidupan. Doa membuka diri kepada kuasa Allah yang akan dinyatakan dalam hidupnya.

    Namun agar kebiasaan  berdoa dan membaca Alkitab tidak terjebak pada ritual harian semata-mata dibutuhkan lebih dari sekedar tekad dan ketekunan. Orang percaya harus menyadari bahwa doa dan firman adalah komunikasi yang hidup dan dinamis antara anak Tuhan dengan Tuhannya.

    Berdoa dan membaca Alkitab merupakan dialog yang tidak berhenti pada kegiatan itu semata-mata. Justru dari kegiatan berdoa dan membaca Alkitab tersebut hidup seorang anak Tuhan akan terarah secarah tepat sasaran sesuai dengan kehendak Tuhan yang dinyatakan dalam Alkitab. Disiplin rohani yang dibangun dalam kegiatan berdoa dan membaca Alkitab adalah kebiasaan melibatkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan anak Tuhan, yaitu dalam perencanaan dan pelaksanaannya.

    Kebiasaan menyediakan waktu untuk berdoa dan membaca Alkitab setiap pagi sebelum aktifitas lain sehari-hari dilakukan, adalah suatu kebiasan yang bertujuan membangun kepekaan sepanjang hari itu akan suara Tuhan dan kuasaNya yang hendak dinyatakanNya di dalam menjalani hidup seharian itu. Walaupun kebiasan itu tidak menjamin kehidupan yang pasti selalu berkemenangan, paling tidak disiplin rohani yang terbentuk membuat orang tidak gegabah merencanakan sesuatu atau bertindak sembarangan, tetapi dengan selalu melibatkan dan memperhitungkan Tuhan.

    Kebiasaan menyediakan waktu di tengah satu minggu untuk mengikuti persekutuan doa atau pembinaan warga gereja atau kelompok kecil atau kegiatan gereja sejenis memiliki tujuan serupa. Kegiatan ini merupakan kegiatan bersama dalam komunitas gereja. Kesempatan berbagi dan menerima masukan dari sesama Yaitu bahwa setiap anak Tuhan mewajibkan dirinya sendiri mempertanggungjawabkan perbuatanya bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan sesama anak Tuhan lainnya yang telah mendoakannya. Sayangnya, kegiatan yang diselenggarakan gereja ini seringkali tidak beda dari kegiatan ibadah minggu yang lebih bersifat satu arah.

    Ibadah hari Minggu penting karena selain sesuai dengan prinsip Sabat juga kerena keutamaan mimbar berdasarkan tradisi Protestan. Pemberitaan firman Tuhan menjadi pusat dalam ibadah hari Minggu. Ibadah Minggu merupakan puncak simbolisasi firman sebagai sentra dalam kehidupan umat Tuhan. Hamba Tuhan yang dipercayakan menguraikan kebenaran firman Tuhan berperan penting dalam membangun kesadaran jemaat akan kebutuhan mereka berjumpa dengan Tuhan lewat teks firman yang digali dan disampaikan secara eksposisi. Tanpa Alkitab sebagai pusatnya, gereja bukanlah gereja sejati.

    Ibadah keluarga pun menjadi wadah penting yang berperan dalam membentuk disiplin rohani setiap anggota keluarga. Bukan hanya untuk anak-anak, tetapi orang tua juga dibiasakan untuk menjaga diri dari sikap hidup yang tidak sesuai firman Tuhan. Orang tua yang member diri ditegur dan dibentuk Tuhan melalui persekutuan keluarga

akan member dampak besar karena keteladanan mereka kepada anggota keluarga yang lain.

    Kebiasaan membaca Alkitab dan berdoa setiap hari berdampak pula pada pembentukan pola pikir dan pola percakapan anak-anak Tuhan. Harus diakui, pola pikir orang Kristen seringkali dipengaruhi oleh pola pikir dunia yang sangat dominan ditemukan di media massa maupun berbagai jenis propaganda dunia ini daripada yang diterimanya dari gereja atau komunitas-komunitas Kristen lainnya. Pikiran-pikiran duniawi dalam berbagai bentuknya itu hanya bias ditangkal dengan mengisi pikiran anak Tuhan dengan pikiran Kristus (2Kor. 10:5). Dan itu hanya terjadi kalau itu anak Tuhan membangun pola pikirnya dengan sumber kebenaran sejati, yaitu firman Tuhan.

    Kalau anak-anak Tuhan mulai membiasan pikirannya diisi dibentuk oleh firman Tuhan maka pola percakapannya pun akan mulai berubah. Kebiasaan bercakap-cakap tanpa arah ataupun yang berisikan hal-hal negative seperti bergosip atau memfitnah akan terkikis dan digantikan dengan hal-hal membangun.

 

Langkah-langkah praktis

Sediakan waktu yang cukup setiap hari untuk bersama Tuhan sebelum segala aktivitas lainnya menyergap kita dan membuat kita tenggelam di dalamnya. Waktu bersama Tuhan adalah waktu berdoa dan membaca firmanNya, merefleksikannya denagn hidup yang kita jalani setiap hari, mencari pimpinan Tuhan untuk menjalani hari itu, dan menekadkan diri untuk menaati kehendakNya sepanjang hari.

   

(Pdt. Frans Ongirwalu, S.Ag.)


TAG